• Search
  • Menu

Pendidikan Olah Raga Harus Dibenahi

BANDUNG, (PRLM).- Penyelenggaraan pendidikan olah raga Jawa Barat masih harus terus dibenahi. Hal itu mencuat setelah tim Fakultas Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung berkunjung ke School of Human Movement and Sport (CALO) di kota Zoulle, Belanda.

Menurut Dekan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Amung Ma`mun, ketika ditemui di gedung KONI Jabar Jln. Pajajaran, Selasa (14/10), banyak hal yang bisa diadopsi dari sistem penyelenggaraan pendidikan olah raga di Belanda, misalnya tentang penyiapan guru pendidikan jasmani, pelaksanaan pendidikan jasmani di universitas, dan pelibatan masyarakat dalam pembinaan olahraga.

"UPI Bandung akan mengadopsi beberapa hal dalam sistem penyelenggaraan pendidikan, tapi bertahap, dan harus melalui beberapa tahapan uji visibilitas dan sebagainya," kata Amung.

Selain itu, Amung menuturkan, masyarakat harus lebih dilibatkan dalam konteks pembinaan pendidikan olah raga. Misalnya, pembuatan berbagai macam klub olah raga, namun difasilitasi oleh negara.

Sementara itu, Pembantu Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FPOK UPI Agus Mahendra mengatakan, masih banyak kekurangan yang menghinggapi penyelenggaraan pendidikan olah raga di Indonesia, khususnya Jawa Barat. "Mau tidak mau kita memang harus banyak mengadopsi sistem dari luar, konkretnya dengan sistem yang ada di Belanda, karena mereka sudah menyelenggarakan pendidikan olah raga lebih dari 60 tahun," kata Agus.

Misalnya dalam hal penyiapan guru pendidikan jasmani. Di seluruh kampus UPI di seluruh Indonesia, semua jurusan yang berada di bawah FPOK UPI, calon guru baru memiliki pengalaman praktik lapangan setelah semester VII atau di tahun keempat.

Sementara di Belanda, menurut Agus, sejak tahun pertama, calon guru sudah dibekali dengan praktik lapangan. Mereka diberi kesempatan untuk berkunjung ke sekolah-sekolah dan melakukan pengamatan. Setelah itu, setiap mahasiswa diwajibkan untuk mengelola 4 orang siswa.

"Dari situ saja, ada perbedaan yang sangat mencolok, betapa di Indonesia s