• Search
  • Menu

Dialog Budaya Bhineka Tunggal Ika

MAJALENGKA, (PRLM).- Keberagaman budaya yang ada di Indonesia kini nyaris tidak menjadi kekuatan untuk menjadi pemersatu lewat cara saling mengenal, saling memahami dan tenggang rasa serta saling menghargai dari adanya perbedaan tesrebut.

Yang muncul dari pemahaman Bineka Tunggal Ika yang selama ini dianut oleh warga Indonesia ternyata belakangan dipahami kebinekaan ini menjadi “Bineka Tunggal Teunggeul bukan Bineka Tunggal Ika” .

Hal tersebut diungkapkan Team leader PT Jarum DSO Sumedang Andi Pamungkas Rahayu, saat melakukan dialog budaya sunda dengan mengambil tema Bineka Tunggal Ika di halaman studio Radika, Majalengka dengan menghadirkan grup band metal “Jasad” serta dihadiri oleh komunitas metal di Majalengka, komunitas iket, seniman karinding asal Talaga, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka serta beberapa komunitas sunda lainnya di Majalengka.

Siangnya juga digelar bakti sosial lewat pengecatan balai pertemuan Pujasera, serta melakukan pembersihan diareal lapang Pujasera dengan melibatkan komunitas metal, TNI, Polri, serta masyarakat umum.

Disampaikan Andi Pamungkas, disebut “bineka tunggal teunggeul “ karena masunia sekarang kala menemui perbedaan dan ketidaksepahaman dengan pihak lain yang muncul emosi hingga akhirnya beradu fisik.

Padahal menurutnya terutama budaya sunda sangat menjunjung tinggi perbedaan dan toleransi. Malah orang sunda kalaupun ada kekesalan tak pernah diungkapkan namun lebih baik di kemu (dipendam). Dan hanya orang sunda yang mengenal silih asah, silih asih serta silih asuh. “Makna itu bila didalami sangat kuat,” kata Andi.

Atas dasar itulah menurut Andi, pihaknya ingin berupaya menjalin komunikasi antara pemuda yang beda warna, beda kegemaran untuk dipersatukan menjadi satu. Pada kegiatan bakti sosial PT Djarum inipun melibatkan TNI, Polri serta masyarakat untuk menunjukan adanya kebersamaan diantara kedua insitusi tersebut.

“Ada beberapa warna baju yang terlibat dalam bakti sosial ini, tapi sekarang kita semua bersama, warna loreng bawa sapu, warna cokelat bawa pengki. Dari sini menunjukan adanya harmonisasi,” ungkapnya.

Sementara itu salah seorang personil “Jasad”, Yuli mengungkapkan, kalau musik metal adalah produk luar dan sejak dulu banyak digemari orang sunda termasuk grup bandnya. Namun demikian menurut Yudi walapun musik metal ruhnya tetap sunda, prilaku hidup tetap nyunda tidak berubah menjadi kebarat-baratan. “Cassing metal dapi jerona angger sunda,” ungkapnya.

Grup band inipun pada acara dialog budaya menyampaikan perlunya kemandirian bagi pemuda sunda, tak perlu cengeng terlebih merengek meminta bantuan pada pihak lain terkecuali bila bantuan d