Peminat Prodi Komunikasi UPI Membeludak
BANDUNG, (PRLM).- Jumlah peminat yang mendaftar ke program studi (prodi) komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) membeludak. Hal ini dapat dlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 4.608 orang. Padahal UPI hanya menerima sebanyak 84 orang mahasiswa untuk 42 orang prodi Humas (Public Relations) dan 42 orang untuk prodi jurnalistik.
Demikian disampaikan Kahumas UPI Dr.H. Suwatno di ruang kerjanya, Kamis (6/9). Menurutnya, prodi komunikasi baru dibuka UPI untuk pertama kali. Namun jumlah peminatnya masuk ke dalam lima besar prodi dengan jumlah peminat terbanyak. Kelimaprodi tersebut adalah prodi ilmu komputer, bahasa Inggris, akuntansi, manajemen, dan komunikasi.
Dr. H. Suwatno menjelaskan, prodi komunikasi UPI berada di bawah Fakultas Pendidikan Ilmu Sosial (FPIPS). Kebijakan UPI membuka prodi ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan UPI tiga tahun lalu terhadap sejumlah instansi pemerintan maupun swasta berkaitan dengan kebutuhan ketersediaan SDM lulusan komunikasi.
Hasil survei tersebut menurut Suwatno menunjukkan, tingkat kebutuhan instansi pemerintah maupun swasta terhadap SDM lulusan komunikasi sangat tinggi. Sedangkan tidak semua perguruan tinggi membuka prodi komunikasi. "Dari hasil survei itulah kemudian kami Tim mepresentasikannya di hadapan senat tentang kemungkinan UPI membuka prodi tersebut," demikian Suwatno.
Selain itu, FPIPS juga sudah memenuhi syarat untuk membuka prodi tersebut karena sudah mempunyai lima doktor bidang komunikasi, yaitu Dr. Edi, Dr. Deni Dharmawan, Dr. Karim Suryadi, Dr. Idrus Affandi, Dr. H. Suwatno, dan Dr. Joni Rahmat. Sedangkan untuk ketersediaan dosen, saat ini diberi kesempatan 4 orang dosen untuk mengikuti tes PNS Dosen Komunikasi.
Menyinggung ciri khas komunikasi UPI dibandingkan dengan komunikasi di perguruan tinggi lain yang sebelumnya ada, Suwatno menjelaskan, komunikasi UPI akan memberi penekanan pada komunikasi pendidikan. Dengan prinsip jurnalisme pendidikan, yaitu jurnalisme yang mengangkat semua berita yang bernilai pendidikan.
Artinya, bila berita tersebut bagus dan dapat memberi inspirasi terhadap masyarakat untuk berbuat lebih baik, maka itulah prinsip jurnalisme pendidikan. Berbanding terbalik dengan prinsip jurnalisme yang selama ini berpegang pada prinsip "bad news is good news".
"Kita tidak seperti itu. Komunikasi UPI mencoba akan memberi paradigma baru bahwa kenapa tidak memberitakan hal-hal baik yang mendidik bila intu menginspirasi banyak orang untuk berbuat lebih baik lagi untuk kemaslahatan," beber Suwatno.
Dia mencontohkan saat UPI sengaja menggelar jumpa pers untuk menginformasikan hasil temuan mahasiswa UPI tentang kompor tanpa api. Dengan adanya pemberitaan seperti itu, dampak positif berdatangan kepada UPI. Banyak investor menawarkan untuk bekerjasama dalam pengadaan alat tersebut. (A-148/A-147)***
