Hambar, Debat Terbuka Pasangan Calon Bupati Cilacap

Rabu, 5 September, 2012 - 20:26

CILACAP, (PRLM).- Debat terbuka pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Cilacap Jawa Tengah, Rabu (5/9/12) hambar, tidak ada perdebatan sebenarnya, saling "serang" antarkandidat untuk mempertahankan misi dan visi. Sementara undangan yang hadir yang diharapkan bisa mengukur kemampuan sebagai calon orang nomor satu di Cilacap justru bertindak layaknya suporter sepak bola.

Berdasarkan pantauan "PRLM", sejak awal para undangan acara debat terbuka antarpasangan calon yang diselanggarakan KPU di Gedung Gelora Pemuda, Cilacap, Rabu (5/9) berlangsung riuh rendah. Para pendukung masing-masing calon bupati Novita Wijayanti - Moch Muslih yang berada di dalam gedung mengeluarkan pendapat dengan nada tinggi dan mencemooh pendukung pasangan Tatto Suwarto Pamuji - Akhmad Edi Susanto.

Situasi tersebut mulai muncul ketika acara debat memasuki sesi menjawab pertanyaan dari pihak panelis oleh masing-masing calon bupati. Pertanyaan meliputi bidang ekonomi, kesejahteraan rakyat dan pemerintahan dan bidang penegakan hukum.

Saat salah satu calon bupati menjawab pertanyaan, para pendukung calon bupati lawan menyelanya dengan mengeluarkan komentar lalu disambung komentar-komentar lainnya. Khususnya ketika pasangan Tatto-Edy sedang berbicara, pendukung Tatto mampu mengendalikan emosi karena sengaja membatasi diri.

Beberapa kali moderator Dosen Institut Agama Islam Imam Ghozali Nusa Ahmad yang memimpin debat berusaha menenangkan massa tapi tidak bisa meredam situasi, bahkan sebaliknya mendapat banyak cemoohan dari undangan.

Para undangan yang datang sebagian besar adalah kelompok pendukung masing-masing calon, mereka sibuk bertepuk tangan ketika kendidatnya menyampaikan jawaban dari pertanyaan panelis dan mengecam kandidat ketika pernyataannya tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Darmawan salah satu pengurus Dewan Kesenian Cilacap mengatakan, debat terbuka pasangan calon bupati. tidak lebih dari pengulangan penyampaian misi visi, sebab KPU tidak memberikan kesempatan kepada pasangan calon untuk menyampaikan dialog interaktif.

"Namanya debat harus interaktif, kalau hanya satu arah tidak ada debat. Jadi kita akan selalu mendengar yang baik-baik saja dari pasangan calon, melihat tontonan tadi kita bisa mengukur kemampuan pasangan calon. Ketika tebuka orang jadi bisa memahami permasalahan dan bisa mengukur kemampuan masing-masing pasangan calon" katanya.

Moderator hanya memberikan kesempatan calon selama tiga menit untuk menjawab pertanyaan tiga panelis dalam satu sesi, debat dibatasi dalam tiga sesi. Terakhir para calon diberi kesempatan untuk menanyakan satu pertanyaan kepada rivalnya, jawaban pun dibatasi hanya tiga menit.

"Sehingga debat terbuka terkesan mengebiri kemampuan pasangan calon. Kedewasaan berdemokrasi, saling menghargai pendapat orang lain tidak jalan. Para undangan tidak lebih dari suporter sepak bola" jelasnya.

Hal yang sama disampaikan Prof. Dr. Paulus Israwan, pakar kebijakan publik dan kepemerintahan dari Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) di Purwokerto yang juga salah satu panelis menambahkan, debat terbuka dan massa pendukung dalam setiap kesempatan kampanye tidak bisa menjadi tolok ukur pasangan bupati menjadi menang.

"Dari debat tadi kita belum bisa mengukur kemampuan seseorang, sebab waktunya sangat dibatasi. Meski kedua pasangan bisa menjawab setiap pertanyaan panelis," jelasnya.

Ketua KPU Cilacap Warsid mengaku menerima kritikan tersebut, sebab debat terbuka pasangan calon bupati baru, "Kita baru pertama kali menyelanggrakan debat terbuka dalam pemilukada sebalunya tidak ada. Kita masih mencari format yang pas untuk Cilacap jadi kita terima kritikan untuk perbaikan ke depan," terangnya. (A-99/A-88)***