669 Titik Mata Air di Kab. Bandung Terancam Kekeringan

Jumat, 27 April, 2012 - 06:43

SOREANG, (PRLM).- Sebanyak 669 titik mata air di Kab. Bandung terancam kekeringan akibat semakin menurunnya kuantitas debit air. Selain itu, tingginya kerusakan hutan di hulu Sungai Citarum berdampak pada menurunnya debit mata air karena hidrologis air sudah tidak berfungsi secara base flow akibat alih fungsi lahan disekitar mata air.

Ketua Elemen Lingkungan (ELINGAN) Jabar Deni Riswandani mengatakan hal tersebut kepada "PRLM", Kamis (26/4/12). Menurut Deni, saat ini ada 10.197,68 hektare kawasan hutan di daerah aliran sungai (DAS) Citarum yang rusak dan perlu direhabilitasi.

Ia mengatakan, dari 669 titik mata air tersebut, Kecamatan Kertasari memiliki sumber mata air terbanyak. Tercatat bahwa di Kertasari terdapat 44 titik mata air. Dan, salah satunya mata air Cibirual yang sempat tertutup sampah selama 28 tahun.

Ia pun mengaku miris dengan keberadaan mata air di tanah milik masyarakat yang banyak diperjualbelikan ke pihak swasta. Padahal, secara hukum dan normatif, sumber air itu dikuasai oleh negara dan tidak boleh diperjual belikan.

"Ini jelas melanggar hukum. Dari 669 titik tersebut terdapat puluhan mata air yang diperjualbelikan ke pihak swasta," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Organisasi Masyarakat Peduli Sumber Air Kab. Bandung Dede Juhari mengatakan, tingginya alih fungsi lahan di hutan produksi hulu Sungai Citarum pun membuat beberapa titik mata air mengering di musim kemarau. Bahkan, selama kurun beberapa tahun kebelakang beberapa mata air di Kertasari sudah rusak dan mengering.

"Oleh karena itu, segera melakukan konservasi hutan secara vegetatif di sekitar mata air. Selain itu, harus ada perlindungan hukum yang tegas, jelas dan terarah pada semua mata air," katanya. (A-194/A-108)***