• Search
  • Menu

Puisi dan Dunia Maya

PADA Kamis pertama bulan Mei 2011, laman Mata Kata kembali hadir dengan menampilkan puisi karya penyair Wahyu Goemilar (Bandung, Jawa Barat), Bunyamin F. Syarifudin (Bandung)  dan Hudan Nur (Palu, Sulawesi Tengah).  Seharusnya tampil pada hari Selasa kemarin, hanya karena ada masalah teknis, maka baru bisa disajikan pada saat ini.

Lepas dari persoalan teknis, ketiga penyair tersebut menampilkan kemampuan yang berbeda dalam menulis puisi. Masing-masing penyair mengekspresikan pengalaman batinnya dengan sungguh-sungguh. Sehubungan itu, menulis puisi memang harus sungguh-sungguh, sekalipun dalam penulisan itu ada permainan makna, bunyi, kata, dan sebagainya. 

Saya yakin, jika ketga para penyair ini mau melakukan eksplorasi lebih jauh lagi dalam soal penjelajahan daya ungkap, niscaya akan menjadi penyair yang akan diperhitungkan lebih lanjut, baik ditingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Bakat ketiga penyair ini cukup menjanjikan dalam menulis puisi-puisinya, yang selain enak dibaca, juga cukup serius dalam menghayati hidup dan kehidupan yang berdenyut di seputar dirinya. Artinya, para penyair ini cukup peka dengan apa yang bergolak di dalam batinnya, maupun di luar batinnya masing-masing.

Sehubungan dengan itu pula, diakui atau tidak dengan adanya jejaring social facebook, perkembangan dan pertumbuhan puisi Indonesia yang kian marak saja. Masing-masing penyair berupaya mengekspresikan kemampuannya dalam mengolah kata, menjadi bahasa ungkap yang mempribadi, dalam sejumlah puisi yang ditulisnya. Dan menulis puisi sebagaimana dikatakan para pakar puisi, tidak lahir dari ruang batin yang kosong, melainkan lahir dari ruang batin yang sarat dengan pengalaman. Pengalaman itu disebut dengan pengalaman puitik.

Pada sisi yang lain, dalam perkembangan dan pertumbuhan puisi Indonesia dewasa ini, ada kalanya kita bisa menemukan sejumlah puisi yang ditulis oleh para penyairnya di laman catatan dalam facebook itu, lebih bermutu dari apa yang dipublikasikan di media massa cetak.

Untuk itu dengan suburnya penulisan puisi di dunia maya ini, diakui atau tidak merupakan sebuah tantangan baru bagi para kritikus sastra untuk menelusuri dan memberikan catatannya dengan tekun.  Hal semacam ini sangat penting dilakukan, agar pemetaan puisi Indonesia kini menjadi lebih beragam.  Sekali lagi, ketiga penyair yang memublikasikan puisinya kali ini di laman Mata Kata, merupakan para penyair yang juga aktif memublikasikan sejumlah puisi yang ditulisnya di media dunia maya.

Pembaca yang mulia, selamat menikmati sejumlah puisi di laman ini. Ada nilai yang bisa dipetik, sekecil apapun nilai itu. Masing-masing penyair dengan sungguh-sungguh telah mengekspresikan pengalaman batinnya, yang ditulis tidak dari ruang yang kosong. Jika sebuah puisi ditulis dari ruang yang kosong, biasanya akan terasa bahwa puisi itu tidak ada “denyut nadinya,”. Dingin, seperti batang pisang.  Puisi-puisi di bawah ini, tidak demikian adanya. Terasa hangat alir darahnya, juga  denyut nadinya.  (Soni Farid Maulana/"PRLM").***

 

Sajak-sajak Wahyu Goemilar

AKU INGIN MENULIS PUISI 

 

Aku ingin menulis puisi
seperti pembatik yang menuangkan cantingnya diatas kain
lalu di buatnya titik, setelah itu ditarik garis
kemudian menjelma rupa

ia kemudian meniupkan rohnya
dan mencelupkannya pada cinta
dan kita menggunakannya dimana-mana

Aku ingin menulis puisi seperti sang mpu membuat keris
ia menaklukan logam dan baja, menempanya di dalam jiwa
kemudian membasuhnya dengan darah
dan di catat sejarah

Aku ingin menulis puisi seperti anak-anak bercinta
ia begitu sederhana, sangat sederhana
bahkan ketika mereka harus kawin muda

 

PADAHAL

 

Padahal aku telah berdoa kepadamu
di tempat yang sekiranya engkau berada
di hutan, gunung, bahkan samudra
engkau tetap menggelengkan kepala
dan kami tertimbun gempa

Padahal aku telah berzikir kepadamu
ditempat yang sekiranya engkau berada
di lapangan upacara, radio, televisi dan istana negara
engkau tidak peduli
dan tetap mengirim kami tsunami


Padahal aku telah meminta pertolongan 
lewat teman dekatmu
para kiai, ustadz, pendeta dan biksu
engkau tetap membisu
sepertinya suara kami tak sampai padamu
(atau engkau tetap ragu?)

 

WAHYU GOEMILAR lahir di Cianjur 27 september. Pernah menjadi penyair dan menulis puisi di surat kabar. Pernah juga menjadi karyawan BUMN kemudian ikut pensiun muda. Sekarang menikmati hidup membesarkan anak - anak sambil berjualan.

 

Sajak-sajak  Hudan Nur

TEMBANG TOLARE

                              : (alm) Hidayat Lembang 
 

Nyanyian itu hanya sampai di teras-teras rumah orang-orang Biromaru yang gemar berdadu, nyanyian anak lembah yang ditiupkan angin sebelum kamis memanggilnya sebagai bujang lumbago. Terkadang ia hanya tahu bagaimana meniup lalove sedang lupa mewarnai bilur-bilur nadinya dengan dedaunan. Nyanyian itu pernah kudengar di Sigi saat nelayan dari Pantai Barat menangkap napoleon dan cakalang, menggali teluk yang tak lumus dalam prakiraan manusia sampai di bibir pantai dan malamnya hanya mampu menterjemahkan lelah selebihnya nyanyian itu berlumang di telingaku. Marilah 'nak menyanyi di Loru jangan kau dengar orang kampung mengusik iramanya karena peta batin sudah tidak merurut lagi dengan dendang-dendang kakula, sudah jarang didengar tabuhannya menyuarakan dekaknya ke kita. Ia ligakan senandung dalam solmisasi hidup yang sangat sumbang. Hanya dengan melarungi secawan dupa bertuhankan ritus balia-balialah ia mengenal gugusan kelenjar air mata yang setiap hari harus diminumnya. Nyanyian itu berakhir seminggu lalu saat lelaki tolare itu ingin memanen akustik ciptaannya lewat roh-roh lembah yang selama ini sempat menjaganya tetapi ia lupa ada tembang lain yang kapan saja bisa datang menculik roh-roh itu! 
 
 
Lembah Palu, November 2010
   
 
 
MENIKAHI MALAM

                                    : Hands Ranjiwa 
 
 seorang paroki membaptismu sebagai pemazmur rupa

      semangkuk hujan telah dipersiapkannya

      kau simpan dalam album jalanan yang kau rajut di sepanjang musim

 

lalu dijadikan garda melamar kekasihmu 

hands,

kau merambang malam sebagai galas tuhan

yang maha pedih 

airmata anakmu hanya sebaris kebekuan yang kau rasa bila dingin menerjabmu

tetapi kau tetap bertahan

membina hubungan dengan malam 

      lalu menyetubuhinya 

hands,

di jantung kota ini kita berkenalan dalam selembar kanvas

kau pagut malam dengan lukisan muram 

aku masih melihat wajahmu menekan kemerdekaan

dibalik ruang yang kau pasung

sebagai ranum kepura-puraan  

menikahi malam telah membuatmu haus

      : kembaramu mengaduh

kau memakunya dalam segandeng rana 

hands,

percuma kau menuba jiwa belantara,

      memetik bintang di kantung mata pernikahanmu 

kau tetap berhati gersang! 
 
 

Teras Puitika, 16 Januari 2011 
 
 

TRIWIKRAMA CINTA 
 
lelaki kusut itu telah menjadi sarjana cinta

      di sajak-sajak tuanya dalam perban kesetiaan

merembang bujana meniti keingsunan   

cinta yang fasik 

dongeng petang di serambi hatimu

merubah batin menjadi nubuat sangsai

tak lunas menghalau rindu yang terselip disaku rompinya 

lantaran jodoh hanya separagraf kalimat

kau lasah hari-hari dengan keringat perempuan

angin menukil proposal cinta tanpa gelagat berkesudahan  

lelaki kusut itu masuki balai agung

pendeta umumkan gelar barunya

: fetus dilanglang alamat kasih 

mazbah gereja disesaki pelawat-pelawat kata

karantina penghabisan lalu-landang di hadapanmu

seorang pastur berkata:

      di jari manismu ada rindu* 

 

Teras Puitika, 17 Januari 2011    
 

)*Judul buku puisi Hamami Adaby tahun 2008 

 

 

HUDAN NUR lahir pada 23 November 1985. Sekarang dipercaya sebagai ketua Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Palu-Sulawesi Tengah. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, essay dan artikel tersebar pada Untaian Mutiara RRI Nusantara, Banjarbaru Post, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Buletin Sloka Tepian, waTas Media, Buletin Rumah Sastra Bandung, Tabloid Realitas, Rakat Media, Buletin Aliance BenKilTra, Sinar Harapan, Republika, Suara Karya, Sinar Kalimantan, Radar Sulteng, Mercusuar, Media Alkhairat, Buletin Hysteria, Majalah Sastra Horison .

Sering mengikuti dan membuat diskusi, apresiasi dan event bertajuk sastra. Diundang pada Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Kudus, 2008. Mengikuti Pertemuan Literasi Indonesia Oleh Ode Kampung, Rumah Dunia di Serang Banten pada Desember 2008. Menghadiri Temu Sastrawan Indonesia II di Pangkalpinang (Kepulauan Bangka Belitung) 2009 dan Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang (Kepulauan Riau) 2010. Tahun 2007 menjadi peserta MASTERA (Majelis Sastra se-Asia Tenggara): Puisi.

Sajak-sajaknya bisa ditemukan dalam bunga rampai: Narasi Matahari (KSBK:2002), Notasi Kota 24 Jam (KSBK:2003), Bulan di Telan Kutu (KSBK:2004), Bumi Menggerutu (KSBK:2005), DIMENSI (KSSB:2005), Ragam Sunyi Jejak Tsunami (Medan, 2005), Melayat Langit (KSBK:2006), Rahasia Sedih Tak Bersebab (Pan.Aruh Sastra:2006), Seribu Sungai Paris Barantai (Pan.Aruh Sastra:2006), 142 Penyair Nusantara Menuju Bulan (KSSB:2007), Kugadaikan Luka (KSBK:2007), Antologi Penyair Kontemporer Indonesia Antologi Puisi Dwi Bahasa: Indonesia dan Mandarin (Perhimpunan Penulis Yin Hua, Jakarta:2007), Malaikat Hutan Bakau (KSBK:2008), Tarian Cahaya Di Bumi Sanggam (Pan.Aruh Sastra:2008), Wajah Deportan (Pusat Bahasa, Jakarta:2009), Menggoda Kehidupan (KSBK:2009), Pedas Lada Pasir Kuarsa (TSI II, Bangka Belitung:2009), Do’a Pelangi Di Tahun Emas (Pan.Aruh Sastra:2009), Kaos Hitam Cinta, Antologi Puisi Penyair Perempuan Indonesia Mutakhir (Masyarakat Sastra Jakarta:2009),  Nyanyian Pulau-Pulau Wanita Penulis Indonesia (Yayasan Obor Indonesia:2010), Berjalan Ke Utara In Memoriam Moh. Wan Anwar (Magma, Bandung: 2010), Beranda Senja (Kosa Kata Kita, Jakarta: 2010), Percakapan Lingua Franca (TSI III, Tanjungpinang–Kepulauan Riau) dan Menulis Dalam Gelap: Blogger di balik Sampul (Komunitas Blogger Kayuh Baimbai: 2010).

Cerpen-cerpennya terdapat dalam antologi: Bunga Penyejuk Hati (2007) dan Tanpa Nyanyian (TahuraMedia:2008). Manuskrip  pribadi: Si Lajang (2002) dan Tragedi 3 November (2003). Di perpuisian bersama kawan-kawan ikut mendirikan Komunitas Teras Puitika dan AUK. Alamat    Jalan Tanderante No. 30 RT01/05 Kel. Kabonena Palu Barat Sulteng 94228. Weblog        : http://hudannur.blogspot.com   Email hudan.nur@gmail.com

 

Sajak- sajak Bunyamin F. Syarifudin

 

Bersandar Pada Senja

 

bersandar pada senja

sahaya terpukau dengan

selendang pelangi yang kau kenakan

 

bersandar pada senja

sahaya berkirim salam

padamu yang selalu membayang

 

"assalamualaikum ya rahiim",

dan ku titikkan di Qalb!

 

2010

 

Kita Berdua Duduk; Tiba-tiba Kau Bertanya

 

Kita berdua duduk

Tiba-tiba kau bertanya tentang Ia

Aku bilang ada, kau bilang hilang

Aku bilang di nadi, kau bilang tak berdetak

 

Aku bilang, ”mari kita menghela nafas dulu.”

Kau malah terengah-engah, tak sabaran

Aku bilang, ”mari kita memesan riak air untuk rasa haus kita.”

Kau malah mengeringkan kerongkongan

 

Aku memesan adzan yang bersembunyi di mushola-mushola

Kau memesan rintik hujan yang mengiris pelangi

Aku memesan malam yang dirindu para Molana

Kau memesan lembayung yang memerah dan bertanduk

 

Aku makan wafak-wafak pelipur rindu

Kau jalin huruf-huruf menjadi sihir

 

Kita berdua duduk

Pada sepi yang purba

Aku bilang, “mari kita cari rumah Ia, di Qalbu!”

 

;kau tertidur lelap

 

2010

 

Pertemuan

 

Menasbihkan namamu

Seperti api yang membakar air

Meluap-luap

                   tak terbatas

 

Mencintai namamu

seperti air yang merindu alir

mula-mula masuk tanah

diisap akar lalu diserap pembuluh dan urat-urat

                   menjadilah reranting,

          dedaun dan bebunga

 

Namamu adalah waktu

Yang menopang bebatang dari hembus angin

Tegak tak bersandar

 

Dalam namamu

Kulihat namaku

 

Hilang!

 

2010