• Search
  • Menu

KUA Purwokerto Selatan Nikahkan Tujuh Pasangan Kumpul Kebo

BANYUMAS, (PRLM).-Sebanyak tujuh pasangan kumpul kebo di Kampung Sri Rahayu Desa Karangklesem Kecamatan Purwokerto Selatan Jawa Tengah, menikah massal. Sebagian besar mereka adalah pemulung, pengamen dan pengemis yang tidak memiliki uang untuk membayar biaya nikah dan mahar. Di Kampung Sri Rahayu sampai saat masih ada sekitar 30-50 pasangan kumpul kebo yang menunggu untuk dinikahkan secara gratis.

Selain tujuh pasangan kumpul kebo kantor urusan agama (KUA) Purwokerto Selatan pada Rabu (29/12) juga menikahkan tiga pasangan tidak mampu dan ingin nikah gratis. Saat menikah massal pasangan tersebut diberi baju pengantin sederhana. Untuk pengantin wanita berupa kebaya dan kerudung sementara mempelai laki-laki menggenakan kopiah baju putih lengan panjang dan celana hitam.

Rata-rata pasangan kumpul kebo sudah berusia setengah baya, bahkan sebagian besar sudah memiliki anak lebih dari satu orang, sebab hidup satu atap tanpa nikah sudah mereka jalani antara 3 tahun hingga 10 tahun.

Seperti pasangan gadis Ani Sumarti (42) yang mendapat "berondong" Kusnadi berusia 27 sudah kumpul kebo selama 10 tahun mereka sudah memiliki dua anak. "Bagaimana mau menikah sebab biaya nikah mahal, seperti bayar penghulu belum biaya-biaya lainnya, uang untuk bayar tukon (mahar) saja ga punya ," kara Kusnadi pendatang dari Banjarnegara.

Tapi dengan nikah gratis Ani Sumarti mengaku cukup gembira sebab status dan tanggung jawabnya semakin jelas saat sudah menjadi istri Kusnedi.

Camat Purwokerto Selatan Titi Pujiastuti dan Ketua Panitia Nikah Massal Musyafa mengatakan, sebagian besar pasangan kumpul kebo adalah dari keluarga tidak mampu, penghasilan mereka didapat dari hasil memulung, mengamen dan mengemis. "Untuk makan sehari-hari saja sulit apalagi untuk membayar biaya menikah," jelas Titi.

Untuk biaya menikah di KUA semitar Rp 600 ribu, belum biaya lain-lainnya seperti mahar, biaya ritual menikah sesuai adat dan sebagainya.

Selain faktor ekonomi rata-rata mereka juga tidak memiliki persayaratan administratif untuk menikah seperti KTP, sebab sebagian besar mereka adalah warga pendatang dengan status tidak jelas, sebab banyak yang sudah berstatus duda, janda atau perawan.